Beberapa kebiasaan orang tua dalam mendidik anak ternyata bisa meninggalkan luka batin yang tidak terlihat.
Luka batin tersebut mungkin tidak langsung terasa, tetapi dampaknya bisa muncul di masa dewasa.
Sering kali, orang tua tidak menyadari bahwa ucapan atau tindakan mereka memberi pengaruh jangka panjang pada perkembangan emosional anak.
Salah satu kebiasaan yang berpotensi merugikan adalah membandingkan anak dengan saudara kandung atau temannya.
Perbandingan seperti ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan memicu perasaan tidak cukup baik.
Kebiasaan kedua adalah sering mengkritik tanpa memberi pujian, sehingga anak tumbuh dengan pola pikir bahwa ia hanya dihargai saat mencapai prestasi.
Kondisi ini bisa membuat anak mengalami kecemasan berlebih dan takut akan kegagalan sepanjang hidupnya.
Kebiasaan ketiga adalah menyepelekan perasaan anak saat mereka sedih, marah, atau cemas dengan mengatakan hal seperti ‘dikit-dikit nangis’ atau ‘lebay banget sih’.
Tindakan ini membuat anak belajar menekan emosi dan kesulitan mengelola kesehatan mental di kemudian hari.
Para ahli psikologi anak menyarankan agar orang tua lebih peka terhadap ekspresi emosional anak dan membangun komunikasi yang hangat serta suportif.
Pengasuhan yang empatik dinilai penting untuk membentuk kepribadian anak yang sehat secara emosional.
Menghindari ketiga kebiasaan ini bisa menjadi langkah awal menciptakan lingkungan rumah yang aman secara psikologis bagi anak.
Kesadaran akan dampak jangka panjang dari pola asuh sangat relevan menjelang tahun 2026, saat semakin banyak keluarga mulai memprioritaskan kesehatan mental.













