Beberapa kebiasaan yang sering dianggap biasa oleh orang tua ternyata bisa meninggalkan luka batin yang mendalam pada anak.
Menurut psikolog anak dan keluarga, pola asuh yang kurang peka terhadap emosi anak dapat memengaruhi perkembangan mentalnya di masa depan.
Satu di antara kebiasaan yang paling umum adalah menyepelekan perasaan anak saat mereka sedih atau marah.
Ketika anak menangis karena kehilangan mainannya, lalu orang tua berkata ‘dikit-dikit nangis’ atau ‘lebay banget sih’, itu justru membuat anak merasa tidak didengar.
Perlahan, anak belajar untuk menekan emosinya dan menganggap perasaan mereka tidak penting.
Kebiasaan kedua adalah membanding-bandingkan anak dengan saudara kandung atau teman sebaya.
Frasa seperti ‘Kakak kan bisa, kenapa kamu nggak?’ atau ‘Adik saja sudah bisa, kamu kok masih salah terus?’ menciptakan rasa tidak cukup baik dalam diri anak.
Hal ini bisa menurunkan harga diri dan memicu perasaan iri atau dendam dalam jangka panjang.
Kebiasaan ketiga adalah menggunakan ancaman sebagai alat disiplin, misalnya ‘Kalau nggak nurut, Mama tinggalin di sini’ atau ‘Nanti Papa gak sayang lagi kalau kamu nakal’.
Pesan tersirat dari ancaman semacam ini adalah kasih sayang harus diperjuangkan, bukan diberikan tanpa syarat.
Anak pun tumbuh dengan kecemasan bahwa ia akan ditinggalkan jika tidak sempurna.
Luka batin semacam ini kerap tidak langsung terlihat, tetapi muncul saat dewasa dalam bentuk hubungan yang tidak sehat, kesulitan regulasi emosi, atau pencarian validasi terus-menerus.
Para ahli menyarankan orang tua untuk lebih sadar akan dampak kata-kata dan sikap mereka sejak dini.
Mendengarkan, mengakui perasaan, dan memberikan batasan tanpa merendahkan adalah langkah awal membangun kesehatan mental anak.
Dengan kesadaran ini, generasi berikutnya bisa tumbuh lebih utuh secara emosional, bahkan di tahun 2026 dan seterusnya.













