Korban kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Nuryati, 63 tahun, dikenang sebagai sosok yang baik hati dan dermawan oleh keluarga serta tetangganya.
Wanita yang juga aktif mengikuti pengajian ini meninggal dalam insiden yang terjadi pada Selasa pagi, meninggalkan duka mendalam bagi komunitas sekitar rumah duka di Jalan Kalibaru Timur VI Dalam, RT 04 RW 08, Kelurahan Utan Panjang, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat.
Rumah duka dipenuhi karangan bunga dan didatangi banyak pelayat, termasuk sesama jamaah pengajian dan warga sekitar yang ingin menyampaikan bela sungkawa.
Siti Rosni, salah satu teman dekat korban dari kelompok pengajian, mengungkapkan rasa syoknya saat mengetahui kabar meninggalnya Nuryati.
Menurut Siti Rosni, almarhumah dikenal sangat peduli terhadap sesama, terlihat dari kebiasaannya membeli dagangan teman-teman pengajian saat berkunjung ke Tanah Abang.
“Umpamanya ke Tanah Abang setidaknya kan harga (ongkos) Rp30 ribu apa naik Bajaj. Terus di sananya ada dagangan ini, dagangan ini dibeliin,” ujar Siti Rosni saat ditemui di rumah duka.
Ia mengaku langsung meninggalkan warungnya begitu mendengar kabar duka tersebut sekitar pukul 10 pagi.
“Saya tuh begitu saya ngedenger informasi jam 10 saya kan warung, nimbang saya berhenti ngewarung, baru berhenti. Terus udah nutup-nutup saya langsung ke rumahnya, ke rumahnya almarhum,” ungkapnya.
Berdasarkan informasi yang diterima Siti Rosni, Nuryati saat itu sedang dalam perjalanan menuju Cikarang untuk mengunjungi anaknya.
Rencananya, almarhum akan menginap di rumah anaknya tersebut setelah pulang dari magrib.
“Habis magrib jalan, anaknya yang di Cikarang itu ngomong ‘Bunda, Bunda’ karena kakaknya di sini, ‘Bunda kok ibu belum nyampe-nyampe?. Aturannya kalau dari magrib jam 9 udah nyampe dong. Nah, musibah itu dari jam 10 kurang ya kayaknya kecelakaan itu,” tambah Siti Rosni.
Anak pertama Nuryati, Halimah, 41 tahun, mengatakan bahwa sang ibu dikenal sebagai pribadi yang pendiam namun memiliki banyak teman.
“Mama tuh orang baik, diem, enggak pernah banyak ngomong. Banyak temannya. Makanya tadi Masya Allah banget ya tamunya Mama tuh banyak banget,” kata Halimah.
Ia mengaku kaget melihat begitu banyaknya pelayat yang datang, menunjukkan betapa luasnya pengaruh kebaikan sang ibu selama hidupnya.
“Makanya kita juga sampai kaget. Mama punya amalan apa? Sampai tamunya tuh banyak banget. Yang kita enggak tahu ya setelah Mama enggak ada,” tambahnya dengan suara bergetar.
Insiden kecelakaan kereta api yang merenggut nyawa Nuryati menjadi salah satu tragedi transportasi yang mencuri perhatian publik pada tahun 2026.
Dari data yang dirilis pihak PT KAI, Nuryati tercatat sebagai salah satu dari sepuluh korban perempuan yang berhasil teridentifikasi pasca kejadian.
Pihak keluarga masih berusaha menerima kenyataan kepergian Nuryati, sementara proses investigasi penyebab kecelakaan terus berlangsung.
Masyarakat sekitar berharap agar kejadian serupa tidak terulang dan sistem keselamatan transportasi kereta api dapat diperketat di masa mendatang.













